latest Post

Baby Azka Lahir Tanpa Tangisan

(Ku titipkan Azka di JannahNYA- Part I)

Tahun baru saja berganti. Bahkan semaraknya pun masih terasa. Semua bersuka cita menyambut dengan segala pengharapan baru.  Pun dengan aku, tak banyak pintaku di awal tahun ini. Hanya ingin bisa menjadi Ibu yang baik bagi sesesok malaikat kecil berumur 20 minggu 3 hari dirahimku ini.
11 Januari 2017.
Tak sedikitpun firasat buruk menyentuh hati dan pikiranku. Semuanya baik-baik saja. Hanya abang yang sedikit demam. Ia memutuskan untuk tak masuk kantor. Ingin ke dokter di puskesmas katanya. Aku pun bisa sekalian control rutin ke bidan. Mengeluhkan tanah dan kaki yang mulai membengkak. Awalnya baik-baik saja. Setidaknya hanya itulah yang aku inginkan. Bidan tak terlalu kaget melihat kaki dan tanganku, biasa saja katanya. Apalagi tekanan darahku normal. Kemudian ia memintaku untuk memeriksa protein urine dan Hb di lab. Hati mulai tak karuan. Ada yang anehkah? Setengah jam menunggu, semua normal. Hasil tes protein urine negative. Hb pun masih tergolong normal 10,7. Aku kembali tenang. Alhamdulillah. Lalu si ibu bidan mencoba mencari denyut jantung bayi dengan alat manual yang mungkin namanya Doppler. Sehat katanya. Sekali lagi, Alhamdulillah.
Usai di puskesmas, kami meneruskan pemeriksaan ke dokter spesialis kandungan di RSUD. Hari yang sudah lama kami tunggu-tunggu. Setelah mengantri lama, akhirnya giliranku. Kami masuk dengan perasaan gembira. Tak sabar ingin melihat malaikat kecil kami. Adam atau hawakah yang ada diperutku ini. Aku diminta berbaring di tempat pemeriksaan. Perawat mengoleskan gell ke perutku. Hati ini berdebar-debar bahagia. Mungkin begitu juga dengan Abang. Dokter mulai meletakkan transducer ke perutku. Menggerakkannya kebagian kiri dan kanan perut. Tertangkap. Aku melihat hasil USG (Ultrasonografi) pada monitor di depanku. Ia masih memainkan transducer ditangannya ke dinding perutku. Belum sempat aku bertanya apa jenis kelamin anak kami, Ia lebih dulu bertanya. Apakah aku pernah terjatuh? Demam tinggi? Pendarahan?. Tidak , aku tak pernah mengalami semua itu. Aku menjaganya dengan baik dok!. Kening dokter itu berkerut. Nada suaranya pun membuatku cemas. Ada apa?
“Ada kelainan pada janin ibu, sudah tak ada denyut jantungnya”
Seketika dunia runtuh. Tanpa terisak, air mata begitu saja turun dari sudut mata. Abang menggenggam tanganku. Mencoba menenangkan. Kerongkonganku tercekat, tak mampu berkata-kata. Aku Seperti melihat sesosok izrail berdiri dihadapanku, siap mencabut nyawaku. Sistem kerja otakku terasa begitu lamban merespon apa yang disampaikan dokter. Bagaimana bisa?? Beberapa jam yang lalu bidan di puskesmas menyatakan bahwa janin diperutku ini baik-baik saja. Seperti mimpi.  Entah apa lagi yang disampaikan dokter, otakku tak lagi mampu menyerapnya. Beliau menyuruh kami pulang, menenangkan diri dan meminta datang kembali jika sudah tenang. Beliau juga membuatkan  surat pengantar untuk dilakukan tindakan medis jika aku sudah siap nanti. Seandainya dokter itu tau, bahwa aku tak kan pernah siap menghadapi ini.
Abang membimbingku berjalan keluar meninggalkan ruangan. Aku seperti melayang, tak menyentuh tanah. Kebisingan rumah sakit tak lagi terdengar, aku seperti tuli. Semua gelap, aku seperti buta. Sesampai dirumah, sesak itu sudah tak tertahan. isak memecah keheningan. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku mengelus perutku, ini tidak mungkin. Anakku baik-baik saja. Dia akan tetap baik-baik saja. Berkali-kali aku mencubit lenganku, ini mimpi yang terlalu buruk. Aku harus segera bangun.  Aku masih berharap ini mimpi, atau mungkin alat USG milik dokter itu rusak. Aku membangun sedikit harapan bahwa semuanya baik-baik saja. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan USG di klinik lain malam itu juga. Paling tidak kami masih punya second opinion, berharap ada dokter baik hati yang akan menyatakan bahwa anak kami baik-baik saja. Sebelum bertemu dokter, aku dan abang sudah saling berjanji bahwa apapun hasilnya nanti, kami akan menerimanya dengan lapang dada. Sepanjang perjalanan menuju klinik aku terus berdoa, meminta pada sang Penguasa untuk menunjukkan kuasanya. Aku percaya, Allah mendengar doaku, Ia mendengar ratapku, Ia faham keinginanku, hanya saja aku yang belum mengerti apa sebenarnya rencanaNYA.
Tak ada keajaiaban apa-apa malam itu. Dokter memberikan vonis yang sama. IUFD  (Intra Uterine Fetal Deadth). Entah apalah itu, mendengarnya saja membuat kepalaku sakit.  Aku mencoba baik-baik saja saat dokter menyampaikan hasil pemeriksaan. Aku berusaha tegar. Tak sedikitpun kuperlihatkan air mataku. Bahkan aku masih sempat tersenyum ketika menyalami dokter sesaat sebelum meninggalkan ruangannya. Sepanjang perjalanan pulang aku tak bicara sepatah kata pun. Aku kembali seperti melayang. Mendadak tuli, buta dan tak merasakan apa-apa.
Tiba dirumah, tangis tak lagi tertahankan. Aku tahu hatinya pun hancur, kesedihanpun menghinggapi seluruh tubuhnya, tapi dengan tabahnya abang terus mencoba menguatkanku. Ia berusaha mengingatkanku pada Allah. Bahwa semua yang terjadi adalah kehendakNYA. Sepanjang malam mata tak mau terpejam. Meski isak sudah menghilang, tapi sudut mata terus saja mengalirkan butiran-butiran yang membasahi pipi. Perih, pedih. Aku ingin marah, tapi pada siapa? Abang terus saja memelukku, mencoba menguatkan, mencoba menyadarkan ku bahwa kehidupan ini adalah milikNYA. serahkan semuanya padaNYA, pasrahkan padaNYA. Ini adalah cobaan dariNYA. Ampuni aku ya Allah.. 
Berjam-jam aku berusaha menguasai diri, mencoba berdamai dengan ketakutan yang menyelimuti diri. Akhirnya dengan berat hati aku menerima kenyataan berat ini. Kenyataan bahwa bayi yang sangat kunanti-nantikan ini sudah tak lagi bernyawa. Allah sudah mengambilnya kembali  sebelum kami bertemu. Janji Allah dan dia hanya sampai disini. Allah belum mengizinkannya melihat dunia, tempat terbaik yang diberikan Allah untuknya hanyalah rahim ibunya dan surga.
Kamis pagi aku dan abang kembali ke rumah sakit, bertemu dokter untuk mendapatkan tindakan medis yang disarankannya tempo hari. Hatiku sudah mulai berdamai dengan keadaan. Aku menyetujui tindakan medis tersebut. Bayi ini harus segera dikeluarkan untuk mencegah terjadinya hal yang membahayakan bagiku. Sayangnya hari itu bukan jadwal dokter Friadi Ginting yang kemarin menanganiku.  Dokter yang bertugas hari itu pun tampak enggan mengambil alih. Aku diminta datang lagi besok.
Allah seperti memberikan kesempatan satu hari lagi  bersama bayi yang sudah tak bernyawa di perutku ini. Seharian aku lewati hanya dengan mengelusnya, berbicara padanya, berharap ia bangun lagi, bergerak dan menendang lagi. Tapi semua tetap sama. Ia membisu, tak bergerak.
Allah seperti memberikanku waktu untuk mempersiapkan diri. Aku mencoba browsing sana-sini, mencari tahu apa itu IUFD, apa saja tindakan medis yang akan aku jalani. Mulai dari induksi untuk kelahiran normal hingga kuretes yang katanya begitu menyakitkan. Menakutkan memang, tapi Aku mulai bisa menguasai diri, mencoba mengerti apa yang terlah terjadi. Mencoba menerima apa yang tuhan tuliskan untukku. Mencoba ikhas. Kuserahkan semuanya pada sang pemilik semesta. Kuadukan semua ketakutan itu dalam sholatku, aku lepaskan tangis dalam sujudku. Memohon kemudahan untuk apa yang akan kujalani besok. Terbata-bata kubacakan Surah Yaasin untuk anakku ini. Aku ikhlas ya Allah. Aku Ikhlas dengan apa yang telah kau ambil. Hanya satu pintaku saat ini, izinkan aku bertemu dengannya walau hanya dalam mimpi. Aku ingin memeluknya, aku ingin menciuminya. Aku ingin meminta maaf karna tak bisa menjaganya.
Jelang subuh,  mata tak sedikitpun terpejam. Gelisah membuncah sepanjang malam. Air terus saja mengalir dari sudut mata. Pedih mengingat apa yang telah terjadi, perih membayangkan apa yang harus aku lalui esok. Sempurna tanpa tidur, pagi itu kami kembali ke rumah sakit. Bertemu kembali dengan dokter Friadi. Ia menyalamiku, bertanya keadaanku. Paling tidak hari ini aku terlihat  jauh lebih baik dibanding dua hari yang lalu. Buktinya hari ini aku sudah bisa ngobrol panjang lebar dengan dokter tersebut.  Aku menanyakan penyebab meninggalnya malaikat kecilku ini. Dengan ramah dan sabar beliau menjelaskan, jika aku tak pernah terjatuh, tak pernah panas tinggi, tak pernah mengalami pendarahan, maka untuk sementara hanya ada dua kemungkinan penyebab meninggalnya bayi di rahimku ini. Terlilit tali pusar karna hiperaktif atau karna adanya kelainan genetik dari bayi. Aku hanya bisa menahan sesak mendengar penjelasan dokter.
Akupun menanyakan tindakan apa saja yang nanti akan aku jalani. Memastikan bahwa apa yang aku baca mengenai IUFD semalam tidak meleset.  Dokter Batak itu menjelaskan padaku bahwa ia akan mengusahakan kelahiran normal dengan bantuan pelunak jaringan berupa pemberian tetes oksitosin 5 IU dektrose5%  20 tetes permenit dan misoprostol 100 mg intravaginal dengan catatan akan dilakukan kuretes jika masih ada jaringan yang tersisa pasca kelahiran. Sedikit bergidik aku mendengarnya.  Ya allah kuatkan aku.
Dokter menyerahkan berkas pemeriksaanku pada perawat untuk segera disiapakan ruang perawatan. Aku dan abang mengikuti perawat menuju bangsal perawatan. Sepanjang jalan ia menggenggam tanganku. Meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Perawat menyiapkan kamar, aku berganti pakaian. Dua orang perawat sedang berusaha mencari pembuluh darah di punggung tangan kananku untuk dipasangkan jarum infuse. Cukup sakit, tapi tak lebih sakit dibandingkan saat salah satu perawat mencoba memasukkan jarinya kedalam jalan lahir untuk memasukkan obat perangsang kelahiran.
Obat demi obat mulai disuntikkan ke tubuhku. Mulai dari yang diinjeksikan melalui kantong infuse, disuntikkan langsung ke jarum infuse yang sedikit perih karna langsung masuk ke pembuluh darah, hingga antibiotic yang diinjeksikan dilengan kanan hingga membuat kulit sedikit bergelembung dan sakitnya bukan main. Dalam satu jam aku sudah terbaring di kamar perawatan, sebagai pasien IUFD.  Pasien dengan janin meninggal dirahim. Suatu hal yang tak pernah sedikitpun terlintas dalam benakku.
Sebelum meninggalkan ruangan, perawat berpesan bahwa efek obat yang dinjeksikan tadi adalah timbulnya rasa mules yang lama-kelamaan akan semakin kuat, dan meminta untuk segera memanggil perawat diruang jaga apabila ada darah atau lendir yang keluar dari jalan lahir.
Dua jam, tiga jam, rasa mules mulai datang. Aku mulai sering meminta ke toilet untuk buang air kecil, tapi belum terjadi apa-apa. Pukul lima sore rasa mules makin menjadi. Abang membawaku ke toilet, darah mulai keluar. Aku pun mulai merasakan ada sesuatu yang berada dijalan lahir. Menonjol bulat akan keluar. Pikirku apakah ini kepala? Bidan datang dan memeriksa jalan lahir. Sudah bukaan 3 katanya. Saat itu juga aku dipindahakan keruang bersalin, persiapan kelahiran. Abang dengan setia menemaniku. Setengah jam kemudian, dengan panduan bidan dan beberapa perawat aku diminta mengejan untuk mendorong keluar sesuatu yang sudah berada di pangkal jalan lahir. Tak lama sesuatu menyembur keluar dari jalan lahir. Air ketuban dan darah yang begitu banyaknya. Baru air ketuban. Aku kehabisan tenaga. Bidan memeriksa kembali jalan lahir, belum ada pembukkan lanjutan.
Sekitar pukul Sembilan malam bidan kembali memasukkan obat ke jalan lahir dan ke infuse. Sama seperti tadi sore, mules mulai datang pelan-pelan dan makin lama makin terasa. Jelang tengah malam, bidan kembali memeriksa jalan lahir. Belum ada bukaan lanjutan. Mungkin karna terlalu lama menunggu, ia memintaku untuk membuka paha selebar mungkin, meminta mengejan sekuat mungkin dan ia memasukkan jari-jarinya ke jalan lahir untuk membantu kelahiran.  Sekuat tenaga aku mendorong. Semua rasa sakit tak lagi bisa diungkapkan dengan kata-kata. Seketika aku teringat ibuk. Bayangan wajahnya muncul dihadapanku. Rasa sakit seperti inilah yang dirasakan ibuk saat melahirkan ku 27 tahun silam. Ya Allah.., sekarang aku merasakan beratnya perjuangan seorang ibu. “Ibuk, maapkan ca..”
Pukul 23.30 wib. Bayi itu tak juga ingin meninggalkan rahim ibunya. Aku menyerah. Kesakitan ini sudah tak tertahan. aku meminta bidan berhenti mengorek-ngorek jalan lahir dengan tangannya. Biarkan dia keluar dengan sendirinya. Akhirnya bidan dan beberapa perawat memutuskan istirahat dan meninggalkanku diruang bersalin hanya berdua dengan abang.  Dia masih setia menemaniku diruangan yang menakutkan itu. Tak sedikitpun takut atau jijik melihat darah yang sudah berceceran dimana-mana. Wajahnya sangat lelah, apalagi saat itu dia sedang demam. Kusuruh istirahat, tidur. lalu  dia meminta izin mengambil tikar dan bantal dikamar rawat, dibentangnya di ruang bersalin itu. Tidur  didekatku. Kupandangi wajahnya yang lelah. Aku tau ia pun sedih , tapi tak sedikitpun diperlihatkan padaku. Ia berpura-pura kuat, ia berpura-pura tegar, agar aku bisa bersandar padanya. Padahal aku tau pasti, hatinya pun hancur. Aku sesegukan menahan tangis, isak memecah sunyinya malam. Air mata seolah tak ada habisnya, terus saja mengalir dari sudut mata. Rasa sakit itu serasa berlipat ganda.  “Maapkan aku yang tak bisa menjaga anakmu..”
Lewat tengah malam, aku belum juga mengalami kontraksi, lelah, tapi mata tak mau terpejam. ku elus-elus perutku, aku mencoba berbicara pada bayi didalamnya. Terkadang menangis, lalu tersenyum, senyum getir. Bagiku dia masih ada, dia masih hidup dan selamanya akan terus hidup dalam hatiku.  Aku memohon padanya agar ia segera keluar. Aku yakin dia mendengar permohonan ibunya. Pukul 02.00, rasa mules  dan sakit datang silih berganti, makin lama makin menjadi. Kubangunkan abang. Aku merasakan sesuatu keluar dari jalan lahir, ku pinta ia untuk melihatnya. Tali pusar  sudah keluar sepanjang jari telunjuk, sebesar selang infuse. Aku melebarkan pahaku, dengan mengejan aku mendorong bayiku agar keluar. Aku merasakan sesuatu keluar dari jalan lahir. Ya, dia keluar dengan sendirinya. Dia telah lahir. Azka telah lahir. Aku menangis.
Abang segera keluar membangunkan bidan. Bidan datang membantu menyelesaikan persalinan, plasenta Azka masih tertinggal didalam. Bidan kembali mengorek jalan lahir dengan tangannya mencoba mengambil yang tertinggal. Tapi aku sudah tak bisa menahan sakit luar biasa itu. Darah segar keluar membasahi kaki, membasahi lantai. Dengan sedikit marah bidan menyuruhku untuk menahan rasa sakit agar plasenta bisa dikeluarkan. Ia justru menakutiku dengan proses kuret yang harus aku lalui jika aku tak bisa membantunya membuka jalan lahir selebar mungkin. Aku mengerang kesakitan. Setengah jam berusaha, tapi nihil. Plasenta terputus. Darah terus mengalir, pendarahan.  Bidan segera menghubungi dokter, menyampaikan bahwa plasenta gagal dikeluarkan. Dokter memerintahkan injeksi obat setengah dari dosis awal untuk merangsang plasenta yang tertinggal. 
Aku menangis. Rasa sakit dan takut menyelimutiku. Abang mengelus kepalaku, berusaha menenangkan. Salah satu perawat  menyerahkan bayi tak bernyawa yang tak sebesar kepalan tangan itu pada Abang. Anakku telah lahir, belum sempurna tubuhnya, tapi sudah dapat telihat bahwa ia laki-laki. Kuberi nama Azka. Azka telah lahir.., Azka lahir tanpa tangisan. Pilu. Rasa pedih menghinggapi hati saat menyadari bahwa aku telah melahirkan bayi yang takkan pernah menangis. Yang tak kan pernah memanggilku mama..
Meskipun aku tak pernah bisa menimangmu, paling tidak aku sudah diberi kesempatan merasakan hadirmu di rahimku. 147 hari yang kita lalui bersama sudah cukup menumbuhkan cinta luar biasa yang tak ada tandingannya.
Selamat jalan nak.., Selamat jalan sayang..
Pergilah kesurga, tunggu kami disana
JanjiNYA itu pasti, kita akan bertemu lagi nanti.
Ya Allah, engkaulau sebaik-baik penjaga. Ku titipkan Azka di JannahMu...
***

About rizkanggraini

rizkanggraini
Recommended Posts × +

0 komentar:

Posting Komentar