latest Post

Kuretese Menyakitkan?, Ya! Menyakitkan Hati.

(Ku titipkan Azka di JannahNYA- Part II)

Sabtu, 14 Januari 2017.
Baby azka baru saja dikuburkan ayahnya. Hanya pemakaman sederhana di halaman belakang rumah tanpa kehadiran aku, ibunya. Aku yang masih terbaring lemah di ruang perawatan rumah sakit berusaha menguatkan hati. Aku ikhlas ya Allah. Aku ikhlas. Hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Kami begitu mendambakan hadirnya disini, kami begitu menyayanginya, tapi aku tau, engkau lebih menyayanginya. Engkau sebaik-baik penjaga baginya. Maka, aku titipkan dia di surgaMU.
Serasa mimpi, aku telah melahirkan baby Azka. Rasa sakit masih sangat terasa, tapi tak lebih sakit dari hati ini. Semalaman aku tak tertidur, mata terasa berat dan sembab .Pun juga belum makan sejak pukul 3 dini hari. Berpuasa untuk persiapan kemungkinan kuret. Harap-harap cemas menunggu kedatangan dokter untuk memeriksa kondisiku. Pukul 11.40, dokter tiba. Beliau menyapa ramah, sedikit berguyon juga tentang proses kelahiran yang sangat cepat ini. Padahal prediksi beliau proses ini akan berlangsung 1 hingga 3 hari. Tak merasakan sakit hingga berhari-hari, satu kemudahan yang diberikan Allah. Alhamdulillah..
Sama denganku, Dokter berharap tak ada sisa jaringan yang menempel dirahim pasca keluarnya plasenta satu jam setelah kelahiran baby Azka dini hari tadi. Beliau menempelkan tranducer USG (Ultrasonografi) ke perutku. Hasil USG sedikit membuatnya kecewa. Terlihat masih ada sedikit bagian plasenta baby Azka menempel di dinding rahimku. Dengan berat hati beliau menyampaikan bahwa aku harus di kuret.  Aku mencoba tersenyum. Seperti kesepakatan awal, kuretese. Okay, aku siap dok!. Saat itu juga dokter menyiapkan kamar operasi. Perawat memasang keteter urine. Ngilu, tapi tak seberapa dibanding sakit yang aku rasakan saat melahirkan baby Azka. Aku cukup tenang menghadapi ini. Bukankah sejak awal kita sudah bersepakat untuk ini? Kita akan selesaikan semua hari ini. Semua kesakitan kita tuntaskan hari ini. Biarkan kepedihan pergi bersama baby azka yang sudah tenang di peristirahatannya. Setelah selesai memasang selang keteter dan mengganti infuse, perawat dibantu Abang membawaku menuju ruang operasi. Di depan ruang operasi, seketika tenang itu berubah. Ketakutan itu tiba-tiba datang. Kesedihan itu kembali mnyeruak memenuhi hati. Sesak. Tak bisa lagi kutahan. “Ca takut..” berkali-kali aku mengatakan itu. Berkali-kali pula Abang berusaha menenangkan ku. Dia mengelus kepalaku. Menggenggam tanganku, meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Seorang petugas medis berpakaian serba hijau keluar dari ruang operasi. Setelah berbasa-basi meminta izin pada abang, ia lalu membawaku masuk ruang operasi. Mendorong tempat tidur menuju kamar operas paling ujung. Aku dipindahkan ke meja operasi yang diatasnya terdapat lampu sorot bulat berukuran besar yang pastinya akan menyilaukan. Sebuah mimpi buruk yang tak pernah ingin kubayangkan sebelumnya. Sambil mempersiapkan ini dan itu, petugas itu mengajakku ngobrol. Sepertinya ia membaca kecemasan diwajahku. Keramahan perawat asal Sidempuan itu sangat membantu, aku sedikit tenang. “Apakah ini sakit bang?” akhirnya kusampaikan juga kecemasanku. Ia tersenyum, dengan tenang ia menjelasakan bahwa ini sedikitpun tak akan menyakitkan. Bius akan membuatku tertidur pulas. Aku pun mulai bertanya tentang apa saja yang mulai dipasangkan ke badanku. Lengan kiri dan kanan dipasangkan alat yang terhubung dengan monitor, jempol kanan yang dijepit dengan jepitan serupa jepitan jemuran, hidung yang dipasangkan selang oksigen dan entah apalah lagi yang mereka otak-atik itu. Meski tak begitu faham dengan yang mereka jelaskan, aku tetap saja bertanya. Terkesan cerewet, tapi sepertinya mereka maklum. Mereka menjawab semuanya dengan tenang dan ramah. Terakhir yang aku tanyakan adalah empat buah suntikan yang satu persatu mulai disuntikan melalui selang infuse di tangan kananku. Tak lama setelah itu pandangan mulai buram, rasa kantuk hebat menyerangku. Aku tak lagi tau apa yang pasukan berseragam hijau itu lakukan. Aku seperti terlempar ke dimensi lain. Aku bertemu baby Azka. Ya..itu Azka. Anakku..
Entah dimana tempat itu. Indah sekali. Seorang anak kecil berlari-lari kecil membelakangiku. Entah apa yang dikejarnya. Larinya masih terseok-seok seperti bayi yang baru pandai berjalan, terlihat menggemaskan. Lucu. Aku tertawa melihatnya. Sayup-sayup terdengar gelak tawanya. Aku berlari kecil mengejarnya, tapi  tak berhasil mendapatkannya. Aku memanggilnya, memintanya mendekat padaku. Ia hanya menoleh sedikit, tertawa, lalu berlari lagi. Entah siapa dia, tapi rasanya wajahnya tak asing bagiku. Aku begitu ingin memeluknya, tapi ia terus berlari. Hanya memberikan sedikit gelak tawa. Aku mematung, tersedu. Kepedihan memenuhi rongga dada melihat dia terus berlari pergi menjauhiku. Sesekali dia menoleh kebelakang, tertawa sambil melambaikan tangan kanannya. Aku terisak membalas lambaian tangannya. Aku yakin itu Azka. Ya..itu Azka. Selamat jalan ananda.., pergilah..kami ikhlas. Tunggu kami di surga. 
Samar-samar mulai terdengar suara. Seseorang terasa sedang memukul kecil pipiku. Kesadaranku belum pulih, tapi aku bisa merasa seorang petugas mendorong tempat tidurku keluar dari kamar operasi. “Sakit kak?” tanyanya. Aku mengenal suaranya, perawat asal Sidempuan yang ramah itu “ Ya..menyakitkan hati” jawabku pelan dengan mata masih tertutup berat. Ia lalu terdiam. “Semoga segera pulih ya” ujarnya lagi saat menyerahkan ku kepada perawat yang telah menunggu di depan ruang operasi.
Aku kembali keruang perawatan. Mata dan kepala masih terasa sangat berat, tapi masih bisa mendengar pembicaraan orang disekitar. Efek bius akan berangsur hilang dalam dua jam. Selama itu pula aku di tidurkan terlentang tanpa menggunakan bantal. Tubuh dan nafas semuanya berbau obat. Bagaimana tidak, aku belum memakan apapun sejak pukul 3 dini hari, dan itu masih harus berlanjut hingga pukul 6 sore.
Pukul 7 malam pasca berbuka puasa, perawat datang untuk memeriksa kondisiku. Ia melepas keteter, cek tekanan darah dan sebagainya. Alhamdulillah semua normal. Jelang pukul delapan aku pun sudah buan angin dan buang air kecil normal tanpa rasa sakit. Alhamdulillah, semua yang terasa berat ini telah terlewati. Baby Azka sudah meninggalkan rahim ibunya dengan sempurna, sudah bahagia di JannahNYA.  
Ya Allah, Terima kasih atas cobaan yang luar biasa ini. Rasa sakit ini mengajarkanku bahwa kau tak pernah meninggalkanku. Kau berikan kekuatan melalui ujian yang kau berikan. Kau ajarkan kesabaran dari sesuatu yang kau tangguhkan. Kau ajarkan keikhlasan dari sesuatu yang begitu aku inginkan. Fisikku mungkin sudah terlihat pulih, tapi belum dengan hatiku. Kini, berikan aku waktu untuk menata kembali hati ini.


19 Januari 2017

About rizkanggraini

rizkanggraini
Recommended Posts × +

0 komentar:

Posting Komentar